Analisis Kesulitan Membaca pada Siswa: Studi Kasus Kualitatif Siswa Kelas III
Purwanti · 33 referensi (29 artikel jurnal + 4 buku metodologi)
Pratinjau ini memakai geometri halaman yang sama dengan berkas DOCX (A4, margin 2,5 cm × 1,5 cm, dua kolom dengan jarak 0,5 cm). Halaman 2, 3, 6, 7 ditandai untuk pemeriksaan visual. Pemenggalan baris pada Microsoft Word dapat sedikit berbeda karena ketersediaan fon Gill Sans MT.
PENDAHULUAN
Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang menjadi fondasi utama keberhasilan belajar siswa sekolah dasar, karena hampir seluruh materi pelajaran menuntut kemampuan memahami informasi tertulis (Noveliana & Ghani, 2022). Pada jenjang kelas III, siswa sesungguhnya telah memasuki tahap membaca lanjut yang ditandai dengan kelancaran membaca kalimat dan kemampuan memahami isi bacaan (Chall, 1983); namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih terdapat siswa kelas III yang belum mencapai tahap tersebut. Kondisi demikian dialami oleh seorang siswa kelas III di SDN Trisari 3, Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, sebut saja NA, berusia sembilan tahun. Berdasarkan hasil observasi awal dan keterangan guru kelas, NA membaca dengan sangat perlahan dan terbata-bata, sering tertukar dalam mengenali huruf-huruf yang bentuknya mirip seperti huruf b dengan d serta p dengan q, kerap menghilangkan huruf akhir ketika mengeja suku kata, mengulang kalimat yang dibacanya, serta belum mampu menjawab pertanyaan sederhana berkaitan dengan isi bacaan, sehingga ia tampak enggan membaca di depan teman-temannya dan cenderung pasif dalam pembelajaran. Kesulitan yang dialami NA tersebut dapat dirujuk pada indikator kesulitan membaca yang meliputi: (1) kesulitan mengenal huruf; (2) kesulitan membaca suku kata; (3) kesulitan membaca kata; (4) kesulitan membaca kalimat secara lancar; dan (5) kesulitan memahami isi bacaan (Ain & Ain, 2024; Prayogo & Citrawati, 2023; Safarida et al., 2022). Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji kesulitan membaca siswa sekolah dasar, antara lain Khairurrazikin dan Yuliawati (2023) yang menemukan dominasi kesulitan pada aspek membaca kata dan pemahaman bacaan siswa kelas III, Borusilaban dan Harsiwi (2023) yang memetakan faktor penghambat membaca permulaan siswa kelas awal, serta Lestari dan Ramadan (2024) yang menekankan peran faktor lingkungan keluarga; akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut umumnya dilakukan pada kelompok siswa dan belum banyak yang memotret secara mendalam satu kasus individual pada siswa kelas III beserta kondisi kesehariannya (Astri & Amalia, 2024). Oleh karena itu, kebaruan penelitian ini terletak pada analisis mendalam terhadap satu kasus kesulitan membaca siswa kelas III yang tidak hanya mendeskripsikan bentuk-bentuk kesulitan berdasarkan indikator, tetapi juga mengungkap kondisi anak secara utuh serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Bertolak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kesulitan membaca dan faktor penyebab kesulitan membaca pada siswa kelas III sekolah dasar melalui studi kasus kualitatif.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus karena bertujuan memahami secara mendalam fenomena kesulitan membaca yang dialami satu individu dalam konteks nyata kesehariannya (Creswell & Poth, 2018). Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di SDN Trisari 3, Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Subjek penelitian adalah seorang siswa kelas III berinisial NA yang dipilih secara purposive berdasarkan informasi guru kelas bahwa yang bersangkutan menunjukkan kesulitan membaca yang paling menonjol di kelasnya. Informan pendukung penelitian meliputi guru kelas III dan orang tua subjek.
Data dikumpulkan melalui empat teknik, yaitu: (1) observasi terhadap aktivitas membaca subjek dalam tiga kali pertemuan; (2) wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas dan orang tua; (3) tes membaca permulaan yang terdiri atas 24 stimulus untuk setiap indikator, mencakup pengenalan huruf, suku kata, kata, kalimat, dan pemahaman isi bacaan sebagaimana digunakan pada penelitian sejenis (Nurani et al., 2021; Rohman et al., 2022); serta (4) dokumentasi berupa hasil belajar dan catatan perkembangan subjek. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik (Sugiyono, 2021). Analisis data dilakukan mengikuti model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al., 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan tes membaca yang telah dilaksanakan, temuan penelitian disajikan dalam empat sub bagian berikut.
1. Kondisi Awal Subjek
NA merupakan siswa laki-laki kelas III berusia sembilan tahun. Secara fisik NA tumbuh normal dan tidak memiliki gangguan penglihatan maupun pendengaran berdasarkan keterangan orang tua serta hasil pemeriksaan sederhana di sekolah. Dalam keseharian di kelas, NA tergolong pendiam, jarang mengangkat tangan, dan cenderung menunduk ketika guru menunjuknya untuk membaca. Nilai mata pelajaran yang menuntut kemampuan membaca berada di bawah rata-rata kelas, sedangkan pada kegiatan yang bersifat lisan dan praktik NA menunjukkan kemampuan yang setara dengan teman-temannya. Di rumah, NA tinggal bersama kedua orang tua yang bekerja sehingga pendampingan belajar pada malam hari relatif terbatas; menurut keterangan ibunya, NA lebih tertarik bermain gawai daripada membaca buku cerita yang tersedia di rumah.
2. Bentuk-Bentuk Kesulitan Membaca
Hasil tes membaca dan observasi menunjukkan bahwa kesulitan membaca NA mencakup seluruh indikator dengan tingkat yang bervariasi sebagaimana dirangkum pada Tabel I.
Tabel I. Frekuensi Kesulitan Membaca Subjek Berdasarkan Indikator
| No | Indikator | Bentuk Kesulitan | f* | % |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengenal huruf | Tertukar huruf yang mirip (b/d, p/q) | 12 | 50 |
| 2 | Membaca suku kata | Mengeja lambat, menghilangkan huruf akhir | 16 | 67 |
| 3 | Membaca kata | Terbata-bata dan sering menebak kata | 18 | 75 |
| 4 | Membaca kalimat | Tidak lancar, banyak pengulangan | 17 | 71 |
| 5 | Memahami isi bacaan | Sulit menjawab pertanyaan isi bacaan | 15 | 63 |
*Frekuensi kesalahan dari 24 stimulus pada tiga kali pengamatan.
Pada indikator mengenal huruf, NA masih tertukar pada huruf-huruf yang mirip seperti b dengan d serta p dengan q, terutama ketika huruf tersebut muncul di tengah kata. Pada indikator membaca suku kata, NA mengeja secara lambat dan kerap menghilangkan huruf akhir, misalnya membaca “buku” menjadi “bu” dan “makan” menjadi “maka”. Pada indikator membaca kata, NA membaca secara terbata-bata dan beberapa kali menebak kata berdasarkan huruf awalnya saja, misalnya membaca “berlari” menjadi “bermain”. Pada indikator membaca kalimat, NA belum memperhatikan tanda baca sehingga intonasinya datar dan ia sering mengulang kalimat dari awal ketika salah membaca satu kata. Pada indikator memahami isi bacaan, NA kesulitan menjawab pertanyaan tentang tokoh, tempat, dan isi cerita yang baru dibacanya, dan baru mampu menjawab setelah dibimbing dengan pertanyaan penuntun. Distribusi tingkat kesulitan pada setiap indikator divisualisasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Tingkat Kesulitan Membaca Subjek per Indikator
3. Faktor Penyebab Kesulitan Membaca
Hasil wawancara dan observasi mengindikasikan bahwa kesulitan membaca NA dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kesadaran fonologis yang belum berkembang optimal, tampak dari kesulitannya membedakan bunyi huruf yang mirip; minat membaca yang rendah, terlihat dari keengganannya memilih buku pada sudut baca kelas; serta rasa percaya diri yang kurang karena pengalaman ditertawakan teman ketika salah membaca. Faktor eksternal meliputi keterbatasan pendampingan membaca di rumah karena kedua orang tua bekerja, pembelajaran membaca di kelas yang berlangsung secara klasikal sehingga guru sulit memberi perhatian khusus, serta keterbatasan media dan buku bacaan yang menarik (Mayasari & Fathoni, 2024). Temuan ini sejalan dengan pendapat bahwa kesulitan membaca jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan perpaduan faktor internal dan eksternal yang saling memperkuat (Astri & Amalia, 2024; Herlinda et al., 2025; Lestari & Ramadan, 2024).
4. Pembahasan
Temuan bahwa kesulitan paling menonjol terletak pada aspek membaca kata dan membaca kalimat konsisten dengan hasil penelitian Khairurrazikin dan Yuliawati (2023) yang menemukan hambatan dominan siswa kelas III justru pada penguasaan kata dan pemahaman bacaan, serta dengan penelitian Eskris dan Koeswanti (2022) yang menegaskan bahwa ketidaklancaran membaca kata berdampak langsung pada kefasihan dan pemahaman bacaan (Puteri et al., 2022). Ditinjau dari tahapan perkembangan membaca, kondisi NA menunjukkan bahwa ia masih berada pada tahap membaca permulaan dan belum beralih ke tahap membaca untuk belajar sebagaimana umumnya siswa kelas III (Chall, 1983). Kesulitan mengenali huruf yang mirip dan hilangnya huruf akhir mengindikasikan lemahnya kesadaran fonologis yang dalam berbagai penelitian terbukti menjadi penanda kuat kesulitan membaca permulaan (Nurani et al., 2021; Rohman et al., 2022; Safitri et al., 2024). Sementara itu, rendahnya minat membaca dan terbatasnya pendampingan di rumah memperkuat temuan Fahmi et al. (2022) serta Amalia dan Pahmi (2022) mengenai pentingnya pola pengasuhan dan lingkungan literasi keluarga. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya intervensi remedial yang terindividualisasi, antara lain pembelajaran fonik yang sistematis (Sunarti et al., 2022), penggunaan kartu huruf dan kartu kata (Azizah & Rahmawati, 2022; Hasibuan, 2024; Sari et al., 2022; Umami & Dafit, 2024), pendampingan bedah kalimat serta pendekatan multisensori (Hidayah & Fathoni, 2022; Primasari & Supena, 2021), dan pemanfaatan media baca yang menarik seperti big book, papan pintar, roda baca, hingga aplikasi membaca berbasis Android (Erlina & Iswara, 2023; Fadillah & Sugiharti, 2025; Lu'lu'a et al., 2023; Maharani et al., 2023). Guru kelas juga disarankan menyediakan waktu membaca khusus dengan teks bergradasi dan penguatan positif untuk memulihkan rasa percaya diri subjek (Herlinda et al., 2025), sekaligus memperkuat pembiasaan literasi melalui Gerakan Literasi Sekolah (Wildaniaty, 2024).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami kesulitan membaca pada seluruh indikator dengan tingkat kesulitan tertinggi pada aspek membaca kata dan membaca kalimat, disusul membaca suku kata, memahami isi bacaan, dan mengenal huruf; kesulitan tersebut disebabkan oleh perpaduan faktor internal berupa kesadaran fonologis yang lemah, minat membaca yang rendah, dan kurangnya rasa percaya diri, serta faktor eksternal berupa keterbatasan pendampingan orang tua, pembelajaran klasikal, dan minimnya media baca yang menarik. Penelitian lanjutan disarankan mengembangkan dan menguji efektivitas program intervensi membaca terindividualisasi, misalnya pendekatan fonik berbasis permainan, serta melibatkan lebih banyak subjek agar temuan dapat dibandingkan lintas konteks sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Ain, R. N., & Ain, S. Q. (2024). Kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 1029–1036. https://doi.org/10.58230/27454312.547
Amalia, R., & Pahmi, S. (2022). Analisis pola asuh orang tua terhadap kemampuan membaca siswa disleksia pada masa pandemi Covid-19. Jurnal Basicedu, 6(2), 1897–1905. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2226
Astri, A. H. A., & Amalia, D. N. (2024). Analisis faktor-faktor kesulitan membaca pada siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(1), 83–90. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i1.6789
Azizah, S. N., & Rahmawati, F. P. (2022). Implementasi inovasi keterampilan membaca permulaan melalui media kartu huruf terintegrasi poster bergambar bagi kelas I sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 6241–6247. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3214
Borusilaban, L. J. A., & Harsiwi, N. E. (2023). Analisis faktor penghambat membaca permulaan siswa kelas I. Jurnal Basicedu, 7(4), 2502–2509. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i4.6014
Chall, J. S. (1983). Stages of reading development. McGraw-Hill.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Erlina, T., & Iswara, P. D. (2023). Pengembangan aplikasi berbasis Android untuk media membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 32(1), 104–118. https://doi.org/10.17977/um009v32i12023p104-118
Eskris, Y., & Koeswanti, H. D. (2022). Media pop-up book berbasis model pembelajaran APACIN meningkatkan kemampuan kefasihan membaca siswa. Mimbar PGSD Undiksha, 10(3), 447–454. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i3.49358
Fadillah, A. A., & Sugiharti, R. E. (2025). Upaya peningkatan keterampilan membaca permulaan melalui media roda baca dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(3), 3899–3910. https://doi.org/10.58230/27454312.2690
Fahmi, M. Q., Subroto, W. T., & Suprijono, A. (2022). Analisis peran pola pengasuhan orang tua dalam perkembangan literasi siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8215–8227. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3460
Hasibuan, R. (2024). Penggunaan media kartu huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan bagi siswa kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(1), 373–384. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i1.7169
Herlinda, R., Haifaturrahmah, H., & Fujiaturrahman, S. (2025). Strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 9(6), 1912–1919. https://doi.org/10.31004/basicedu.v9i6.10780
Hidayah, O. N., & Fathoni, A. (2022). Keefektifan model pendampingan bedah kalimat dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 5044–5051. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.3015
Khairurrazikin, K., & Yuliawati, F. (2023). Analisis kesulitan belajar membaca pada anak kelas III sekolah dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 32(2), 130–139. https://doi.org/10.17977/um009v32i22023p130-139
Lestari, L., & Ramadan, Z. H. (2024). Faktor penyebab kesulitan membaca dan dampaknya terhadap proses pembelajaran siswa kelas II sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 113–124. https://doi.org/10.58230/27454312.1553
Lu'lu'a, K., Luthfiana, L., Widodo, S. T., Wahyuni, N. I., & Khusna, D. S. (2023). Strategi mengatasi kesulitan membaca pada pelajaran Pancasila siswa kelas 1 menggunakan media papan pintar Pancasila. Jurnal Basicedu, 7(6), 3913–3922. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6405
Maharani, N. P. L., Ganing, N. N., & Kristiantari, M. G. R. (2023). Media big book: Solusi meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II sekolah dasar. Mimbar PGSD Undiksha, 11(1), 56–63. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v11i1.58055
Mayasari, D. P., & Fathoni, A. (2024). Penerapan strategi reading aloud dalam menumbuhkan minat membaca siswa di sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 803–812. https://doi.org/10.58230/27454312.362
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Noveliana, J., & Ghani, A. R. (2022). Literasi membaca dan dampaknya terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa sekolah dasar. Mimbar PGSD Undiksha, 10(3), 469–475. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i3.50750
Nurani, R. Z., Nugraha, F., & Mahendra, H. H. (2021). Analisis kesulitan membaca permulaan pada anak usia sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(3), 1462–1470. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i3.907
Prayogo, J. F. A., & Citrawati, T. (2023). Analisis bentuk kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 7(4), 2510–2520. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i4.6021
Primasari, I. F. N. D., & Supena, A. (2021). Meningkatkan kemampuan membaca siswa disleksia dengan metode multisensori di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(4), 1799–1808. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i4.1055
Puteri, A., Ferdiansyah, M., & Murjainah, M. (2022). Media komik proklamasi untuk kemampuan membaca pemahaman siswa SD. Mimbar PGSD Undiksha, 10(1), 46–53. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i1.41070
Rohman, Y. A., Rahman, R., & Damayanti, V. S. (2022). Analisis kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas satu di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 5388–5396. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2946
Safarida, R. S., Sutisnawati, A., & Uswatun, D. A. (2022). Analisis kesulitan membaca siswa pada pembelajaran tematik sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 7466–7473. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3469
Safitri, D., Yuliawati, F., & Khoirinimah, S. M. (2024). Analisis kesulitan membaca dengan penghilangan dan penambahan huruf pada siswa kelas IV sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(4), 2542–2553. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i4.7772
Sari, H. M., Uswatun, D. A., Amalia, A. R., Mariam, S., & Yohana, E. (2022). Peningkatan keterampilan membaca permulaan siswa melalui kartu kata berbasis wayang sukuraga. Jurnal Basicedu, 6(5), 7707–7715. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3557
Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Sunarti, S., Linarsih, A., Amalia, A., Ali, M., & Miranda, D. (2022). Pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan bahasa Inggris melalui metode phonics pada anak taman kanak-kanak. Jurnal Basicedu, 6(6), 9525–9534. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i6.4134
Umami, N. S., & Dafit, F. (2024). Pengaruh media kartu kata terhadap kemampuan membaca siswa kelas 1 sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 779–790. https://doi.org/10.58230/27454312.517
Wildaniaty, I. D. (2024). Implementasi gerakan literasi sekolah dalam membentuk keterampilan membaca permulaan siswa kelas I SD. Jurnal Basicedu, 8(4), 2620–2629. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i4.8162
JPPP — Jurnal Perspektif Penelitian Pendidikan
Analisis Kesulitan Membaca pada Siswa: Studi Kasus Kualitatif Siswa Kelas III
Purwanti1
1 SDN Trisari 3, Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Indonesia
Email: purwantilivinza@gmail.com
| Informasi Artikel | ABSTRAK |
|---|---|
Diterima: Revisi: Publikasi: | Kemampuan membaca merupakan fondasi utama keberhasilan belajar siswa sekolah dasar, namun di lapangan masih ditemukan siswa kelas III yang belum mampu membaca secara lancar. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk kesulitan membaca dan faktor penyebabnya pada seorang siswa kelas III sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang siswa kelas III berinisial NA yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas dan orang tua, tes membaca permulaan, serta dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami kesulitan pada seluruh indikator membaca, yaitu mengenal huruf (tertukar huruf b dengan d serta p dengan q), membaca suku kata (mengeja lambat dan menghilangkan huruf akhir), membaca kata (terbata-bata dan menebak kata), membaca kalimat (tidak lancar dan banyak pengulangan), serta memahami isi bacaan. Tingkat kesulitan tertinggi terdapat pada aspek membaca kata dan membaca kalimat. Kesulitan tersebut dipengaruhi faktor internal berupa kesadaran fonologis yang lemah, minat membaca yang rendah, dan kurangnya rasa percaya diri, serta faktor eksternal berupa keterbatasan pendampingan orang tua, pembelajaran klasikal, dan minimnya media baca yang menarik. Temuan ini mengisyaratkan perlunya intervensi membaca terindividualisasi melalui kolaborasi guru dan orang tua. Kata kunci: kesulitan membaca; membaca permulaan; studi kasus; siswa kelas III Reading ability is the main foundation of elementary school students' learning success, yet some third-grade students are still unable to read fluently. This study aimed to analyze the forms of reading difficulties and their causal factors in a third-grade elementary school student. A qualitative approach with a case study design was employed. The subject was a third-grade student identified as NA, selected purposively. Data were collected through observation, semi-structured interviews with the classroom teacher and parents, a beginning reading test, and documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing with source and technique triangulation. The results show that the subject experienced difficulties across all reading indicators: letter recognition (confusing b with d and p with q), syllable reading (slow spelling and dropping final letters), word reading (halting and guessing words), sentence reading (disfluent with frequent repetition), and reading comprehension. The highest difficulty levels were found in word and sentence reading. These difficulties were influenced by internal factors, namely weak phonological awareness, low reading interest, and low self-confidence, as well as external factors, namely limited parental assistance, whole-class instruction, and a lack of engaging reading media. The findings imply the need for individualized reading intervention through teacher-parent collaboration. Keywords: reading difficulty; beginning reading; case study; third-grade student |
doi: -
Bidang: Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Informasi sitasi: Editor akan memberikan informasi kutipan artikel sesuai dengan APA 7 setelah diterima. Oleh karena itu, Anda dapat mengosongkan bagian ini.
JPPP — Jurnal Perspektif Penelitian PendidikanPENDAHULUAN
Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang menjadi fondasi utama keberhasilan belajar siswa sekolah dasar, karena hampir seluruh materi pelajaran menuntut kemampuan memahami informasi tertulis (Noveliana & Ghani, 2022). Pada jenjang kelas III, siswa sesungguhnya telah memasuki tahap membaca lanjut yang ditandai dengan kelancaran membaca kalimat dan kemampuan memahami isi bacaan (Chall, 1983); namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih terdapat siswa kelas III yang belum mencapai tahap tersebut. Kondisi demikian dialami oleh seorang siswa kelas III di SDN Trisari 3, Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, sebut saja NA, berusia sembilan tahun. Berdasarkan hasil observasi awal dan keterangan guru kelas, NA membaca dengan sangat perlahan dan terbata-bata, sering tertukar dalam mengenali huruf-huruf yang bentuknya mirip seperti huruf b dengan d serta p dengan q, kerap menghilangkan huruf akhir ketika mengeja suku kata, mengulang kalimat yang dibacanya, serta belum mampu menjawab pertanyaan sederhana berkaitan dengan isi bacaan, sehingga ia tampak enggan membaca di depan teman-temannya dan cenderung pasif dalam pembelajaran. Kesulitan yang dialami NA tersebut dapat dirujuk pada indikator kesulitan membaca yang meliputi: (1) kesulitan mengenal huruf; (2) kesulitan membaca suku kata; (3) kesulitan membaca kata; (4) kesulitan membaca kalimat secara lancar; dan (5) kesulitan memahami isi bacaan (Ain & Ain, 2024; Prayogo & Citrawati, 2023; Safarida et al., 2022). Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji kesulitan membaca siswa sekolah dasar, antara lain Khairurrazikin dan Yuliawati (2023) yang menemukan dominasi kesulitan pada aspek membaca kata dan pemahaman bacaan siswa kelas III, Borusilaban dan Harsiwi (2023) yang memetakan faktor penghambat membaca permulaan siswa kelas awal, serta Lestari dan Ramadan (2024) yang menekankan peran faktor lingkungan keluarga; akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut umumnya dilakukan pada kelompok siswa dan belum banyak yang memotret secara mendalam satu kasus individual pada siswa kelas III beserta kondisi kesehariannya (Astri & Amalia, 2024). Oleh karena itu, kebaruan penelitian ini terletak pada analisis mendalam terhadap satu kasus kesulitan membaca siswa kelas III yang tidak hanya mendeskripsikan bentuk-bentuk kesulitan berdasarkan indikator, tetapi juga mengungkap kondisi anak secara utuh serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Bertolak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kesulitan membaca dan faktor penyebab kesulitan membaca pada siswa kelas III sekolah dasar melalui studi kasus kualitatif.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus karena bertujuan memahami secara mendalam fenomena kesulitan membaca yang dialami satu individu dalam konteks nyata kesehariannya (Creswell & Poth, 2018). Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di SDN Trisari 3, Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Subjek penelitian adalah seorang siswa kelas III berinisial NA yang dipilih secara purposive berdasarkan informasi guru kelas bahwa yang bersangkutan menunjukkan kesulitan membaca yang paling menonjol di kelasnya. Informan pendukung penelitian meliputi guru kelas III dan orang tua subjek.
Data dikumpulkan melalui empat teknik, yaitu: (1) observasi terhadap aktivitas membaca subjek dalam tiga kali pertemuan; (2) wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas dan orang tua; (3) tes membaca permulaan yang terdiri atas 24 stimulus untuk setiap indikator, mencakup pengenalan huruf, suku kata, kata, kalimat, dan pemahaman isi bacaan sebagaimana digunakan pada penelitian sejenis (Nurani et al., 2021; Rohman et al., 2022); serta (4) dokumentasi berupa hasil belajar dan catatan perkembangan subjek. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik (Sugiyono, 2021). Analisis data dilakukan mengikuti model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al., 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan tes membaca yang telah dilaksanakan, temuan penelitian disajikan dalam empat sub bagian berikut.
1. Kondisi Awal Subjek
NA merupakan siswa laki-laki kelas III berusia sembilan tahun. Secara fisik NA tumbuh normal dan tidak memiliki gangguan penglihatan maupun pendengaran berdasarkan keterangan orang tua serta hasil pemeriksaan sederhana di sekolah. Dalam keseharian di kelas, NA tergolong pendiam, jarang mengangkat tangan, dan cenderung menunduk ketika guru menunjuknya untuk membaca. Nilai mata pelajaran yang menuntut kemampuan membaca berada di bawah rata-rata kelas, sedangkan pada kegiatan yang bersifat lisan dan praktik NA menunjukkan kemampuan yang setara dengan teman-temannya. Di rumah, NA tinggal bersama kedua orang tua yang bekerja sehingga pendampingan belajar pada malam hari relatif terbatas; menurut keterangan ibunya, NA lebih tertarik bermain gawai daripada membaca buku cerita yang tersedia di rumah.
2. Bentuk-Bentuk Kesulitan Membaca
Hasil tes membaca dan observasi menunjukkan bahwa kesulitan membaca NA mencakup seluruh indikator dengan tingkat yang bervariasi sebagaimana dirangkum pada Tabel I.
Tabel I. Frekuensi Kesulitan Membaca Subjek Berdasarkan Indikator
| No | Indikator | Bentuk Kesulitan | f* | % |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mengenal huruf | Tertukar huruf yang mirip (b/d, p/q) | 12 | 50 |
| 2 | Membaca suku kata | Mengeja lambat, menghilangkan huruf akhir | 16 | 67 |
| 3 | Membaca kata | Terbata-bata dan sering menebak kata | 18 | 75 |
| 4 | Membaca kalimat | Tidak lancar, banyak pengulangan | 17 | 71 |
| 5 | Memahami isi bacaan | Sulit menjawab pertanyaan isi bacaan | 15 | 63 |
*Frekuensi kesalahan dari 24 stimulus pada tiga kali pengamatan.
Pada indikator mengenal huruf, NA masih tertukar pada huruf-huruf yang mirip seperti b dengan d serta p dengan q, terutama ketika huruf tersebut muncul di tengah kata. Pada indikator membaca suku kata, NA mengeja secara lambat dan kerap menghilangkan huruf akhir, misalnya membaca “buku” menjadi “bu” dan “makan” menjadi “maka”. Pada indikator membaca kata, NA membaca secara terbata-bata dan beberapa kali menebak kata berdasarkan huruf awalnya saja, misalnya membaca “berlari” menjadi “bermain”. Pada indikator membaca kalimat, NA belum memperhatikan tanda baca sehingga intonasinya datar dan ia sering mengulang kalimat dari awal ketika salah membaca satu kata. Pada indikator memahami isi bacaan, NA kesulitan menjawab pertanyaan tentang tokoh, tempat, dan isi cerita yang baru dibacanya, dan baru mampu menjawab setelah dibimbing dengan pertanyaan penuntun. Distribusi tingkat kesulitan pada setiap indikator divisualisasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Tingkat Kesulitan Membaca Subjek per Indikator
3. Faktor Penyebab Kesulitan Membaca
Hasil wawancara dan observasi mengindikasikan bahwa kesulitan membaca NA dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kesadaran fonologis yang belum berkembang optimal, tampak dari kesulitannya membedakan bunyi huruf yang mirip; minat membaca yang rendah, terlihat dari keengganannya memilih buku pada sudut baca kelas; serta rasa percaya diri yang kurang karena pengalaman ditertawakan teman ketika salah membaca. Faktor eksternal meliputi keterbatasan pendampingan membaca di rumah karena kedua orang tua bekerja, pembelajaran membaca di kelas yang berlangsung secara klasikal sehingga guru sulit memberi perhatian khusus, serta keterbatasan media dan buku bacaan yang menarik (Mayasari & Fathoni, 2024). Temuan ini sejalan dengan pendapat bahwa kesulitan membaca jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan perpaduan faktor internal dan eksternal yang saling memperkuat (Astri & Amalia, 2024; Herlinda et al., 2025; Lestari & Ramadan, 2024).
4. Pembahasan
Temuan bahwa kesulitan paling menonjol terletak pada aspek membaca kata dan membaca kalimat konsisten dengan hasil penelitian Khairurrazikin dan Yuliawati (2023) yang menemukan hambatan dominan siswa kelas III justru pada penguasaan kata dan pemahaman bacaan, serta dengan penelitian Eskris dan Koeswanti (2022) yang menegaskan bahwa ketidaklancaran membaca kata berdampak langsung pada kefasihan dan pemahaman bacaan (Puteri et al., 2022). Ditinjau dari tahapan perkembangan membaca, kondisi NA menunjukkan bahwa ia masih berada pada tahap membaca permulaan dan belum beralih ke tahap membaca untuk belajar sebagaimana umumnya siswa kelas III (Chall, 1983). Kesulitan mengenali huruf yang mirip dan hilangnya huruf akhir mengindikasikan lemahnya kesadaran fonologis yang dalam berbagai penelitian terbukti menjadi penanda kuat kesulitan membaca permulaan (Nurani et al., 2021; Rohman et al., 2022; Safitri et al., 2024). Sementara itu, rendahnya minat membaca dan terbatasnya pendampingan di rumah memperkuat temuan Fahmi et al. (2022) serta Amalia dan Pahmi (2022) mengenai pentingnya pola pengasuhan dan lingkungan literasi keluarga. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya intervensi remedial yang terindividualisasi, antara lain pembelajaran fonik yang sistematis (Sunarti et al., 2022), penggunaan kartu huruf dan kartu kata (Azizah & Rahmawati, 2022; Hasibuan, 2024; Sari et al., 2022; Umami & Dafit, 2024), pendampingan bedah kalimat serta pendekatan multisensori (Hidayah & Fathoni, 2022; Primasari & Supena, 2021), dan pemanfaatan media baca yang menarik seperti big book, papan pintar, roda baca, hingga aplikasi membaca berbasis Android (Erlina & Iswara, 2023; Fadillah & Sugiharti, 2025; Lu'lu'a et al., 2023; Maharani et al., 2023). Guru kelas juga disarankan menyediakan waktu membaca khusus dengan teks bergradasi dan penguatan positif untuk memulihkan rasa percaya diri subjek (Herlinda et al., 2025), sekaligus memperkuat pembiasaan literasi melalui Gerakan Literasi Sekolah (Wildaniaty, 2024).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami kesulitan membaca pada seluruh indikator dengan tingkat kesulitan tertinggi pada aspek membaca kata dan membaca kalimat, disusul membaca suku kata, memahami isi bacaan, dan mengenal huruf; kesulitan tersebut disebabkan oleh perpaduan faktor internal berupa kesadaran fonologis yang lemah, minat membaca yang rendah, dan kurangnya rasa percaya diri, serta faktor eksternal berupa keterbatasan pendampingan orang tua, pembelajaran klasikal, dan minimnya media baca yang menarik. Penelitian lanjutan disarankan mengembangkan dan menguji efektivitas program intervensi membaca terindividualisasi, misalnya pendekatan fonik berbasis permainan, serta melibatkan lebih banyak subjek agar temuan dapat dibandingkan lintas konteks sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Ain, R. N., & Ain, S. Q. (2024). Kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 1029–1036. https://doi.org/10.58230/27454312.547
Amalia, R., & Pahmi, S. (2022). Analisis pola asuh orang tua terhadap kemampuan membaca siswa disleksia pada masa pandemi Covid-19. Jurnal Basicedu, 6(2), 1897–1905. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2226
Astri, A. H. A., & Amalia, D. N. (2024). Analisis faktor-faktor kesulitan membaca pada siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(1), 83–90. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i1.6789
Azizah, S. N., & Rahmawati, F. P. (2022). Implementasi inovasi keterampilan membaca permulaan melalui media kartu huruf terintegrasi poster bergambar bagi kelas I sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 6241–6247. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3214
Borusilaban, L. J. A., & Harsiwi, N. E. (2023). Analisis faktor penghambat membaca permulaan siswa kelas I. Jurnal Basicedu, 7(4), 2502–2509. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i4.6014
Chall, J. S. (1983). Stages of reading development. McGraw-Hill.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Erlina, T., & Iswara, P. D. (2023). Pengembangan aplikasi berbasis Android untuk media membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 32(1), 104–118. https://doi.org/10.17977/um009v32i12023p104-118
Eskris, Y., & Koeswanti, H. D. (2022). Media pop-up book berbasis model pembelajaran APACIN meningkatkan kemampuan kefasihan membaca siswa. Mimbar PGSD Undiksha, 10(3), 447–454. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i3.49358
Fadillah, A. A., & Sugiharti, R. E. (2025). Upaya peningkatan keterampilan membaca permulaan melalui media roda baca dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(3), 3899–3910. https://doi.org/10.58230/27454312.2690
Fahmi, M. Q., Subroto, W. T., & Suprijono, A. (2022). Analisis peran pola pengasuhan orang tua dalam perkembangan literasi siswa sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8215–8227. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3460
Hasibuan, R. (2024). Penggunaan media kartu huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan bagi siswa kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(1), 373–384. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i1.7169
Herlinda, R., Haifaturrahmah, H., & Fujiaturrahman, S. (2025). Strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 9(6), 1912–1919. https://doi.org/10.31004/basicedu.v9i6.10780
Hidayah, O. N., & Fathoni, A. (2022). Keefektifan model pendampingan bedah kalimat dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 5044–5051. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.3015
Khairurrazikin, K., & Yuliawati, F. (2023). Analisis kesulitan belajar membaca pada anak kelas III sekolah dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 32(2), 130–139. https://doi.org/10.17977/um009v32i22023p130-139
Lestari, L., & Ramadan, Z. H. (2024). Faktor penyebab kesulitan membaca dan dampaknya terhadap proses pembelajaran siswa kelas II sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 113–124. https://doi.org/10.58230/27454312.1553
Lu'lu'a, K., Luthfiana, L., Widodo, S. T., Wahyuni, N. I., & Khusna, D. S. (2023). Strategi mengatasi kesulitan membaca pada pelajaran Pancasila siswa kelas 1 menggunakan media papan pintar Pancasila. Jurnal Basicedu, 7(6), 3913–3922. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6405
Maharani, N. P. L., Ganing, N. N., & Kristiantari, M. G. R. (2023). Media big book: Solusi meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II sekolah dasar. Mimbar PGSD Undiksha, 11(1), 56–63. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v11i1.58055
Mayasari, D. P., & Fathoni, A. (2024). Penerapan strategi reading aloud dalam menumbuhkan minat membaca siswa di sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 803–812. https://doi.org/10.58230/27454312.362
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Noveliana, J., & Ghani, A. R. (2022). Literasi membaca dan dampaknya terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa sekolah dasar. Mimbar PGSD Undiksha, 10(3), 469–475. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i3.50750
Nurani, R. Z., Nugraha, F., & Mahendra, H. H. (2021). Analisis kesulitan membaca permulaan pada anak usia sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(3), 1462–1470. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i3.907
Prayogo, J. F. A., & Citrawati, T. (2023). Analisis bentuk kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas rendah sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 7(4), 2510–2520. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i4.6021
Primasari, I. F. N. D., & Supena, A. (2021). Meningkatkan kemampuan membaca siswa disleksia dengan metode multisensori di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(4), 1799–1808. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i4.1055
Puteri, A., Ferdiansyah, M., & Murjainah, M. (2022). Media komik proklamasi untuk kemampuan membaca pemahaman siswa SD. Mimbar PGSD Undiksha, 10(1), 46–53. https://doi.org/10.23887/jjpgsd.v10i1.41070
Rohman, Y. A., Rahman, R., & Damayanti, V. S. (2022). Analisis kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas satu di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 5388–5396. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2946
Safarida, R. S., Sutisnawati, A., & Uswatun, D. A. (2022). Analisis kesulitan membaca siswa pada pembelajaran tematik sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 7466–7473. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3469
Safitri, D., Yuliawati, F., & Khoirinimah, S. M. (2024). Analisis kesulitan membaca dengan penghilangan dan penambahan huruf pada siswa kelas IV sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 8(4), 2542–2553. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i4.7772
Sari, H. M., Uswatun, D. A., Amalia, A. R., Mariam, S., & Yohana, E. (2022). Peningkatan keterampilan membaca permulaan siswa melalui kartu kata berbasis wayang sukuraga. Jurnal Basicedu, 6(5), 7707–7715. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3557
Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Sunarti, S., Linarsih, A., Amalia, A., Ali, M., & Miranda, D. (2022). Pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan bahasa Inggris melalui metode phonics pada anak taman kanak-kanak. Jurnal Basicedu, 6(6), 9525–9534. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i6.4134
Umami, N. S., & Dafit, F. (2024). Pengaruh media kartu kata terhadap kemampuan membaca siswa kelas 1 sekolah dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(1), 779–790. https://doi.org/10.58230/27454312.517
Wildaniaty, I. D. (2024). Implementasi gerakan literasi sekolah dalam membentuk keterampilan membaca permulaan siswa kelas I SD. Jurnal Basicedu, 8(4), 2620–2629. https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i4.8162
Menyiapkan tata letak halaman…